Saturday, October 10, 2009

Tiga Jenis Manusia Dalam Menghadapi Musibah

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya”. QS. Al-Isra’ (17) ayat 16.


“Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan”. Asy-Syuara (26) : 208


“Tidak ada (penduduk) suatu negeri pun yang beriman yang Kami telah membinasakannya sebelum mereka; maka apakah mereka akan beriman?“. QS.Al-Anbiya (21) ayat 6.

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kelaliman. QS. Al-Qashash 28 ayat 59.

Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertobat). Al-Ahqaaf (46) ayat 27.


"Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lohmahfuz)" . QS.Al-Isyra’ (17) ayat 58.


Musibah berasal dari kata ashaaba, yushiibu, mushiibatan yang berarti segala yang menimpa pada sesuatu kaum baik berupa kesenangan maupun kesusahan, akan tetapi umumnya musibah selalu identik dengan kesusahan, padahal, kesenangan yang dirasakan pada hakikatnya juga musibah juga.


Dan dengan musibah, Allah SWT hendak menguji, siapa yang paling baik amalnya.


''Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, karena Kami hendak memberi cobaan kepada mereka, siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya.'' QS Al-Kahfi (18) : 7


Dan didalam Al-Qur'an juga dijelaskan bahwa ada tiga golongan manusia dalam menghadapi musibah.


“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”. QS. Al-An’am (6) : 125


"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun". Qs. Al-Baqarah (2) ayat 156


Pertama, orang yang menganggap bahwa musibah adalh sebagai hukuman dan azab kepadanya, sehingga, dia selalu merasa sempit dada dan selalu mengeluh.

Kedua, orang yang menilai bahwa musibah adalah sebagai penghapus dosa, Ia tidak pernah menyerahkan apa - apa yang menimpanya kecuali kepada Allah SWT.


Ketiga, orang yang meyakini bahwa musibah adalah ladang peningkatan iman dan takwanya, Orang yang seperti ini selalu tenang serta percaya bahwa dengan musibah itu Allah SWT menghendaki kebaikan bagi dirinya.


Dan Musibah yang ditimpakan kepada umat manusia ada dua macam. pertama, musibah dunia dan yang kedua, musibh akhirat.


Musibah dunia salah satunya ialah ketakutan, kelaparan, kematian, dan sebagainya sebagaimana Allah SWT jelaskan dalam surat Al-Baqarah (2) ayat 155. ''Dan pasti akan kami uji kalian dengan sesuatu dari ketakutan, dan kelaparan, dan kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan, dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.''


Adapun musibah akhirat adalah orang yang tidak punya amal saleh dalam hidupnya, sehingga jauh dari pahala. Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Orang yang terkena musibah, bukanlah seperti yang kalian ketahui, tetapi orang yang terkena musibah yaitu yang tidak memperoleh kebajikan (pahala) dalam hidupnya.''


Orang yang terkena musibah berupa kesusahan di dunia, jika ia hadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT, hakikatnya ia tidak terkena musibah. Justru yang ia dapatkan adalah pahala


Sebaliknya, musibah kesenangan selama hidupnya, jika ia tidak pandai mensyukurinya, maka itulah musibah yang sesungguhnya. karena, bukan pahala yang ia peroleh, melainkan dosa dan siksa.


Berkenaan dengan hal tersebut, dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, ''Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, Aku tiada mengeluarkan hamba-Ku yang Aku inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Aku tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakit pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya, apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai Aku seperti bayi yang baru dilahirkan.' '

Kesimpulan musibah demi musibah yang kita hadapi selama ini, masih lebih baik apabila kita mau bertobat, dan musibah demi musibah yang kita lihat , kita rasakan dan kita alami, bila kita hadapi dengan sabar, ikhlas dan tetap istikomah serta taubat sebenar benarnya taubat dan juga kembali kepada baik hukum Allah yang telah Allah SWT gariskan dan telah Allah tetapkan dalam Al-Qur'an serta bimbingan yang telah Nabi Muhammad SAW contohkan untuk kita semua sesuai yang tertera dalam hadits yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an, pastilah kita akan mendapat pahala serta petunjuk dan Insya Allah kita semua selamat baik dunia sampai akhirat, semoga....


Aamiin Yarobbal Alamiin


Marilah kita taubat sebenar benarnya taubat, agar musibah yang kita rasakan kita alami dan kita dengar, Allah ganti dengan keberkahan dan keridhoan serta kebahagian baik dunia sampai akhirat

Indahnya Berbaik Sangka

"Hubungan yang baik antara satu dengan lain dan khususnya antara muslim yang satu dengan muslim lainnya merupakan sesuatu yang harus dijalin dengan sebaik-baiknya. Ini kerana Allah telah menggariskan bahawa mukmin itu bersaudara. Itulah sebabnya, segala bentuk sikap dan sifat yang akan memperkukuh dan memantapkan persaudaraan harus ditumbuhkan dan dipelihara, sedangkan segala bentuk sikap dan sifat yang dapat merosak ukhuwah harus dihilangkan. Agar hubungan ukhuwah islamiyah itu tetap terjalin dengan baik, salah satu sifat positif yang harus dipenuhi adalah husnuzh zhan (berbaik sangka).


Oleh kerana itu, apabila kita mendapatkan informasi negatif tentang sesuatu yang terkait dengan peribadi seseorang apalagi seorang muslim, maka kita harus melakukan tabayyun (penyelidikan) terlebih dahulu sebelum mempercayainya apalagi meresponnya secara negatif, Allah berfirman yang ertinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan." Q.S Al-Hujuraat : 6


Manfaat Berbaik Sangka

Ada banyak nilai dan manfaat yang diperolehi seseorang muslim bila dia memiliki sifat husnuzh zhan kepada orang lain.

Pertama, hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, perkara ini kerana berbaik sangka dalam hubungan sesama muslim akan menghindari terjadinya keretakan hubungan. Bahkan keharmonian hubungan akan semakin terasa kerana tidak ada halangan psikologis yang menghambat hubungan itu.


Kedua, terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama kerana buruk sangka akan membuat seseorang menimpakan keburukan kepada orang lain tanpa bukti yang benar, Allah berfirman sebagaimana yang disebutkan pada Surah Al-Hujuraat Ayat 6 di atas

Ketiga, selalu berbahagia atas segala kemajuan yang dicapai orang lain, meskipun kita sendiri belum dapat mencapainya, perkara ini memiliki erti yang sangat penting, kerana dengan demikian jiwa kita menjadi tenang dan terhindar dari iri hati yang boleh berkembang pada dosa-dosa baru sebagai kelanjutannya. Ini bererti kebaikan dan kejujuran akan membawa kita pada kebaikan yang banyak dan dosa serta keburukan akan membawa kita pada dosa-dosa berikutnya yang lebih besar lagi dengan dampak negatif yang semakin banyak.

Ruginya Berburuk Sangka


Manakala kita melakukan atau memiliki sifat berburuk sangka, ada sejumlah kerugian yang akan kita perolehi, baik dalam kehidupan di dunia mahupun di akhirat.


Pertama, mendapat dosa. Berburuk sangka merupakan sesuatu yang jelas-jelas bernilai dosa, kerana disamping kita sudah menganggap orang lain tidak baik tanpa dasar yang jelas, berusaha menyelidiki atau mencari-cari keburukan orang lain, juga akan membuat kita melakukan dan mengungkapkan segala sesuatu yang buruk tentang orang lain yang kita berburuk sangka kepadanya, Allah berfirman yang ertinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani. " Q.S Al-Hujuraat : 12

Kedua, dusta yang besar. Berburuk sangka akan membuat kita menjadi rugi, kerana apa yang kita kemukakan merupakan suatu dusta yang sebesar-besarnya, perkara ini disabdakan oleh Rasulullah : "Jauhilah prasangka itu, sebab prasangka itu pembicaraan yang paling dusta" HR. Muttafaqun alaihi


Ketiga, menimbulkan sifat buruk. Berburuk sangka kepada orang lain tidak hanya berakibat pada penilaian dosa dan dusta yang besar, tetapi juga akan mengakibatkan munculnya sifat-sifat buruk lainnya yang sangat berbahaya, baik dalam perkembangan peribadi mahupun hubungannya dengan orang lain, sifat-sifat itu antara lain ghibah, kebencian, hasad, menjauhi hubungan dengan orang lain dll. Dalam satu hadith, Rasulullah bersabda


Hendaklah kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan kebajikan membawa ke syurga. Selama seseorang benar dan selalu memilih kebenaran dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Berhati-hatilah terhadap dusta, sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada neraka. Selama seseorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta. HR. Bukhari


Larangan Berburuk Sangka


Kerana berburuk sangka merupakan sesuatu yang sangat tercela dan mengakibatkan kerugian, maka perbuatan ini sangat dilarang di dalam Islam sebagaimana yang sudah disebutkan pada Surah Al-Hujuraat Ayat 12 di atas. Untuk menjauhi perasaan berburuk sangka, maka masing-masing kita harus menyedari betapa hal ini sangat tidak baik dan tidak benar dalam hubungan persaudaraan, apalagi dengan sesama muslim dan aktivis dakwah. Disamping itu, bila ada benih- benih di dalam hati perasaan berburuk sangka, maka perkara itu harus segera dicegah dan dijauhi kerana ia berasal dari godaan syaitan yang bermaksud buruk kepada kita. Dan yang lebih penting lagi adalah memperkukuh terus jalinan persaudaraan antara sesama muslim dan aktivis dakwah agar yang selalu kita kembangkan adalah berbaik sangka, bukan malah berburuk sangka


Oleh kerana itu, Khalifah Umar bin Khattab menyatakan: Janganlah kamu menyangka dengan satu kata pun yang keluar dari seorang saudaramu yang mukmin kecuali dengan kebaikan yang engkau dapatkan bahawa kata-kata itu mengandungi kebaikan. Demikian perkara-perkara dasar yang harus mendapat perhatian kita dalam kaitan dengan sikap husnuzhzhan (berbaik sangka).

Ya Allah, bukakanlah ke atas kami hikmatMu dan limpahilah ke atas kami khazanah rahmatMu, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmuku dan luaskanlah kefahamanku. Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku


"Seandainya engkau menyampaikan keburukan saudaramu, Jika itu benar, maka bererti kamu sudah membuka aib saudaramu, dan jika itu salah, maka engkau sudah melakukan fitnah "

Friday, October 9, 2009

Malu Tapi Mahu

Pernahkah anda terhalang di dalam menyampaikan hasrat hati kepada seseorang. Halangan tersebut mungkin disebabkan malu, takut, rasa rendah diri atau sebagainya. Akhirnya si dia yang anda sukai itu menjadi milik orang lain. Dan akhirnya anda hanya tersenyum sambil mengucapkan tahniah, selamat pengantin baru!

Namun, jika dikaji sejarah hidup Rasulullah, kita boleh mempelajari sesuatu untuk mengatasi masalah itu.

Siapa tidak kenal dengan Ummul Mukminin Saidatina Khadtijah binti Khuwailid, isteri pertama Rasulullah dan orang yang paling berjasa kepada agama Islam. Beliau mula jatuh hati dengan Rasulullah setelah mendengar khabar tentang keperibadian Rasulullah semasa mengendalikan perdagangan miliknya.

Ramai yang beranggapan bahawa Khadtijah telah meminang Rasulullah. Sebenarnya, proses peminangan Khadtijah dijalankan seperti biasa mengikut adat istiadat Arab. Hamzah dan Abu Thalib (bapa-bapa saudara Rasulullah) adalah individu yang bertanggungjawab di dalam proses peminangan Khadtijah. Khadtijah pula diwakili oleh bapa saudaranya Amr Bin Asad.


Apa yang boleh kita contohi ialah cara Khadtijah menyampaikan hasrat hati beliau kepada Rasulullah. Khadtijah menggunakan perantaraan sahabat baik beliau, Nufaisah Binti Munya untuk menyampaikan maksud. Kaedah ini lebih mulia kerana dirinya sudah tentu tidak akan berasa malu kalau-kalau nabi menolak usulnya.


Dalam proses itu Nurfaisah mulu-mula merahsiakan nama Khadtijah. Beliau hanya menggunakan kiasan-kiasan untuk melindungi identiti sahabatnya. Apabila Rasulullah mula menunjukan tanda-tanda minat, barulah Nurfaisah menyatakan secara terang bahawa individu yang dimaksudkan itu adalah majikan Rasulullah sendiri. Apabila Rasulullah bersetuju, Nufaisah amat gembira dan berjanji akan membantu menguruskan semua hal dan tidak memberatkan Rasulullah.

Kemudian proses peminangan dan perkahwinan berlaku secara normal.


Kesimpulannya, cari seorang rakan yang boleh dipercayai untuk menjadi orang tengah sekiranya anda berasa malu, segan, takut atau sebagainya di dalam menyampaikan hasrat hati.

Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut

“Tiap - tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan”. QS.Al-Ankabut (29) : 57.

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. QS. Az-Zumar (39) : 30.

“Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan kejahatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang dhalim”. QS. Al-Jum’ah (62) : 7

“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". QS. Al-Jum’ah (62) : 8.

Bila kita berbicara tentang kematian sering kali kita dicela oleh orang orang yang merasa tidak nyaman mendengarkan cerita tentang kematian itu, mereka pada umumnya menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia saja, dan pada umumnya seseorang tidak ingin memikirkan peristiwa tentang kematian dirinya, padahal tidak ada satu makhlukpun yang dapat menjamin bahwa seseorang akan tetap hidup dalam satu, dua jam kedepan, dan atau hari hari berikutnya


Betapa hebatnya bila kita setiap hari, manakala kita menyaksikan kematian orang lain yang ada disekitar kita, kita juga memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya, dan betapa hebat dan baiknya bila kita sadar dan menyadari bahwa kematian itu juga sedang mengintai dan menunggu kita, dan betapa habat yang amat luarbiasa bila kita menyadari bahwa dari detik ke detik, dari menit kemenit dari waktu kewaktu dan dari hari kehari yang kita lalui selama ini justru semakin mendekatkan diri kita dari kematian, sebagaimana juga yang berlaku bagi orang orang yang ada disekeliling kita baik yang kita saksikan kita dengar dari mulut kemulut ihwal berita duka tersebut, atau dari berbagai mass media, keistimewaan yang telah menggiringnya untuk menyiapkan berbagai bekal, seperti amal shaleh, patuh dan taat pada perintah Allah yang telah ditetapkan bagi dirinya sebagai seorang hamba yang lemah, juga dengan ikhlas tabah dan sabar manakala mendapat musibah dengan berpasarah diri kepada Nya, juga sekuat tenaga berusaha untuk menjauhi segala larangan larangan dari sang Maha Pencipta dan sang Maha memelihara dirinya, dan sekuat tenaga mempertahankan serta tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun, sebagai bekal yang dapat dibawa manakala maut telah menjempunya


Akan tetapi justru sebaliknya pada umumnya masyarakat kita sangat sulit dan sangat takut bila mendengar tentang kematian bahkan cenderung mereka mengalihkan perhatian serta berusaha untuk menghindar dari kematian, sebagaimana yang telah Allah SWT informasikan pada kita dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 7 yang artinya tercantum diatas, dengan berbagai cara mereka mengalihkan dan berusaha untuk menghindari kematian, seseorang biasanya menghindari kematian dengan menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang dengan kematian, mereka berpikir tentang di mana mereka akan mengadakan pertemuan, dimana mereka akan melanjutkan pendidikan atau kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, pakaian apa yang akan mereka gunakan untuk menghadiri undangan acara yang telah disiapkan, apa yang akan dimasak untuk makan nanti, serta masih banyak contoh lain, yang mereka anggap dapat mengalihkan dan menghidari dari kematian, hal-hal ini merupakan persoalan - persoalan penting yang sering kita pikirkan selama ini, karena kehidupan yang kita jalani selama ini kita artikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari - hari


Kita sadari atau tidak, kita persiapkan atau tidak, kematian merupakan hal yang pasti, dan kita semua pasti tidak akan dapat menghindari, serta melarikan diri dari kematian, sesuai firman Allah dalam QS. Al-Jum’ah (62) ayat 8 yang artinya tercantum tersebut diatas, tanpa terkecuali, kita semua pasti mati, kita semua baik yang saat ini masih hidup, maupun yang akan hidup, pasti akan menghadapi kematian yang selama ini kita hindari kehadirannya, pada hari yang telah Allah tentukan, namun justru masyarakat kita pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan dan kebetulan saja, maka manakala kita menghadapi kematian, hampir dipastikan kita tidak siap serta tidak memiliki kesiapan apapun.

Wahai saudaraku betapa indahnya, bila kematian yang telah menanti saatnya tiba untuk kita semua telah hadir menjemput kita sesuai ketetapan yang telah Allah tetapkan pada semua hambanya, sebagai hamba Allah yang beriman, Dan Allah SWT mengabulkan do’a yang telah kita panjatkan setiap saat, dengan ungkapn “ALLAHUMMA HAWWIN ALAINAA FII SAKARAATIL MAUUT” serta diakhir kata tidak terucap kata kata lain selain ucapan yang sangat indah yakni dengan ucapan “LAAILLAHAILLALLOHU MUHAMMADARASULULLOH”, dari saat kita menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, kita semua sudah tidak ada apa-apanya lagi selain hanya “seonggok daging dan tulang”, tubuh kita yang diam dan terbujur kaku akan segera dimandikan untuk yang terakhir kalinya, dan tubuh kita yang sudah menjadi mayat dibungkus kain kafan, jenazah kita yang sudah dishalati akan segera dibawa ke kuburan dalam keranda, dan sesudah jenazah kita dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi seluruh badan kita, inilah kesudahan cerita hidup kita, dan mulai saat itu kita hanyalah seorang yang namanya terukir pada batu nisan diatas kuburan


Wahai saudaraku mumpung saat ini kita masih dapat membaca, masih dapat mengedipkan mata, masih dapat menggerakkan semua anggota badan, kita masih dapat berbicara, kita masih dapat tertawa, kita juga masih dapat beraktifitas sebagaimana biasa, semua ini merupakan fungsi tubuh karena kita masih hidup, hari ini kita yang melihat dan menonton tayangan TV tentang kematian saudara saudara kita, bisa jadi suatu saat nanti saudara saudara kita dibelahan bumi lain yang menonton jenazah jenazah kita yang ditayangkan oleh berbagai mass media, dan mari kita renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh kita setelah kita mati nanti, apakah kita dapat mengucapkan duakalimah syahadat diakhir hayat kita, apakah ketika kita menemui ajal dalam keadaan taqwa atau justru sebaliknya, marilah kita segera bertaubat, agar setiap saat bila ajal menjemput kita, kita telah siap dengan sebenar benarnya berdasarkan dan sesuai tuntunan Nabi kita Nabi Muhammad SAW, serta kita semua mendapat ampunan serta keringanan juga mati dalam keadaan husnul khotimah dan bukan suul khotimah

Allaahumma innaa nas aluka Salaamatan Fiddiin Wa ‘Aafiyatan Fil Jasadi Wa Ziyaadatan Fil ‘Ilmi Wa Barakatan Fir Rizqi Wa Taubatan Qablal Maut Wa Rahmatan Indal Maut Wa Maghfiratam Ba’dal Maut Allaahumma Hawwin ‘Alainaa Fii Sakaraatil Maut Wan Najaata Minnannar Wal ‘Afwa Indal Hisab Rabbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idzhadaitanaa Wa Hab Lanaa Milladunka Rahmatan Innaka Antal Wahhaab.

Haji Dan Umrah

Ibadat haji dan umrah merupakan satu amalan yang mesti dilakukan oleh setiap Muslim mukalaf yang berkemampuan, sekali dalam seumur hidupnya.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Imran: 97 yang bermaksud: Dan Allah SWT mewajibkan manusia mengerjakan ibadat haji dengan mengunjungi Baitullah iaitu sesiapa yang mampu dan berkuasa sampai kepadanya. Dan sesiapa yang kufur (ingkarkan kewajipan ibadat haji itu) maka sesungguhnya Allah SWT Maha Kaya (tidak berhajat kepada sesuatu pun) daripada sekalian makhluk.

Rezeki yang diberi oleh Allah selalu digunakan untuk keperluan seperti makan, minum dan sebagainya. Elok benar sekiranya rezeki yang melebihi keperluan harian disimpan dan diguna untuk beribadat kepada Allah. Oleh itu, sewajarnya mereka yang diberi rezeki yang lebih oleh Allah untuk menunaikan haji dan umrah.

Ali r.a. berkata Rasulullah bersabda : "Barang siapa ada bekalan dan cukup perbelanjaan untuk menunaikan fardu haji tetapi ia tidak menunaikan fardu haji, maka tidak ada beza baginya mati sebagai Yahudi ataupun Kristian."

RUKUN HAJI DAN UMRAH


Rukun haji atau umrah adalah satu pekerjaan yang mesti dilakukan oleh mereka yang melaksanakan haji atau umrah. Jika tidak ditunaikan, sama ada sengaja atau tidak, maka tidak sah haji atau umrahnya.

Dengan itu, setiap jemaah perlu mempelajari amalan-amalan haji dan umrah dengan sebaik-baiknya. Diingatkan juga para jemaah tidak boleh mengambil mudah perkara ini kerana ia adalah kesempurnaan haji atau umrah.

Jika jemaah tidak laksana rukun-rukun itu atau laksana tetapi tidak sempurna mengikut syarat-syaratnya, maka tidak sah haji atau umrahnya.

Harapan kita untuk laksanakan haji atau umrah bagi dapat pahala, tetapi bukan pahala yang dapat, sebaliknya bala. Sebabnya, kerana tidak laksanakan amalan-amalan rukunnya dengan sempurna. Keadaan ini selalu berlaku kerana kita tidak mahu belajar dan mengambil mudah. Malah ada setengah di kalangan kita menganggap ia seperti pergi melancong ke tempat-tempat bersejarah yang lain.

Salah satu perbezaan amalan haji dan umrah dengan amalan-amalan lain dari segi perlaksaannya, apabila bermula maka ia mestilah diselesaikan amalan-amalan sehingga tahallul jika tidak akan dikenakan dam. Begitu juga berpindah daripada rukun ke rukun lain melainkan telah selesai dan sempurna rukun yang sebelumnya

RUKUN HAJI

1. Niat ihram haji, 2. Wukuf, 3. Tawaf, 4. Saie, 5. Bergunting/bercukur dan 6. Tertib pada kebanyakan rukun

RUKUN UMRAH

1. Niat ihram umrah,
2. Tawaf,
3. Saie,
4. Bergunting/bercukur dan
5. Tertib

Rukun pertama haji dan umrah

1. Niat ihram haji

"Sahaja aku mengerjakan haji dan berihram dengannya kerana Allah SWT"

Niat ihram umrah

"Sahaja aku mengerjakan umrah dan berihram dengannya kerana Allah SWT"

Dengan niat ihram, maka diharamkan ke atas mereka melakukan perkara-perkara yang dilarang dalam masa ihram. Oleh itu, sebelum mereka berniat ihram disunatkan mereka melakukan perkara-perkara seperti berikut: i. Mengerat kuku, ii. Mendandan misai dan rambut, iii. Menanggalkan bulu-bulu ketiak, ari-ari dan sebagainya. iv. Mandi sunat ihram dengan niat "Sahaja aku mandi sunat ihram kerana Allah SWT", v. Mengambil wuduk, vi. Memakai minyak rambut, vii. Memakai kain ihram warna putih, viii. Mendirikan solat sunat ihram

Setelah itu bolehlah berniat ihram serta bertalbiah. Bagi wanita haid dan nifas dibolehkan berniat ihram. Ihram haji atau umrah, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah r.ha tentang haid. "Engkau buatlah apa sahaja yang dilakukan orang yang mengerjakan haji kecuali tawaf."

2. Rukun kedua haji (tiada pada umrah)


WUQUF DI ARAFAH

Arafah adalah satu padang yang terletak di Wadi Wuranah sebelah Muzdalifah dan dikelilingi bukit pasir yang menghala ke Taif. Jemaah haji perlu berada di sini walaupun seketika dalam sebarang keadaan seperti duduk, berbaring atau tidur bermula dari gelincir matahari (masuk waktu Zuhur) 9 Zulhijjah sehingga sebelum terbit fajar (masuk waktu Subuh) 10 Zulhijjah.


Oleh itu, syarat sah berwuquf, jemaah telah berniat dengan niat haji, jemaah berkeadaan seorang yang layak menunaikan ibadat (tidak gila, pengesan, mabuk dan hilang akal sepanjang masa wuquf) dan jemaah perlu berada di situ walaupun seketika. (dalam waktu wuquf


3. Rukun ketiga bagi haji dan kedua bagi umrah.


TAWAF HAJI DAN UMRAH

Mengelilingi kaabah sebanyak tujuh kali dengan syarat-syaratnya seperti berikut: i. Berwuduk (suci daripada hadas besar dan kecil), ii. Menutup aurat, iii. Suci badan, pakaian dan tempat tawaf daripada najis, iv. Bermula dan berakhir di sudut Hajarul Aswad, v. Menjadikan kaabah di sebelah kiri dan berjalan ke hadapan, vi. Dilakukan dalam Masjidil Haram dan di luar binaan kaabah, Hijir Ismail dan Syazarwan, vii. Tetap niat tawaf sepanjang masa tawaf, viii. Cukup tujuh pusingan dengan yakin.


Dalam isu batal wuduk semasa mengerjakan tawaf, maslahat jemaah haji dijamin, masyaqquh dan haraj mereka seperti kesesakan di tempat tawaf yang boleh menyebabkan berlaku persentuhan lelaki dan perempuan, ia dapat dihindarkan dengan beralih daripada pendapat Syafie yang masyhur dan berpegang kepada pendapat marjuh dalam Mazhab Syafie.

Jemaah haji boleh menggunakan pendapat yang menyatakan tidak batal wuduk jika berlaku persentuhan lelaki dan perempuan tanpa syahwat. (Muzakarah Haji Kali 21. 5-7 Jun 2005)

6.Rukun kelima bagi haji dan keempat bagi umrah

Bergunting/bercukur

Bergunting atau bercukur membawa pengertian ialah menanggalkan sekurang-kurangnya tiga helai rambut di kepala dengan menurut syarat-syarat sahnya; i. Telah masuk waktu

(Bergunting/ bercukur untuk haji bermula tengah malam 10 Zulhijjah)

(waktu bergunting/bercukur umrah ialah setelah selesai saie umrah), ii. Rambut di kepala, iii. Tidak kurang daripada tiga helai rambut.

Ibadat haji ada dua Tahallul iaitu Tahallul Awal dan Tahallul Thani. Tahallul Awal terhasil apabila jemaah haji selesai mengerjakan dua daripada tiga perkara berikut: i. Melontar jamrah kubra (10 Zulhijjah) masa melontar bermula tengah malam 10 Zulhijjah hingga terbenam matahari 13 Zulhijjah, ii. Bergunting/bercukur , iii. Tawaf rukun dan saie rukun.


Ibadat haji ada dua Tahallul iaitu Tahallul Awal dan Tahallul Thani. Tahallul Awal terhasil apabila jemaah haji selesai mengerjakan dua daripada tiga perkara berikut: i. Melontar jamrah kubra (10 Zulhijjah) masa melontar bermula tengah malam 10 Zulhijjah hingga terbenam matahari 13 Zulhijjah, ii. Bergunting/bercukur , iii. Tawaf rukun dan saie rukun.


Tahallul Thani dikira selesai apabila jemaah melakukan ketiga-tiga perkara tersebut. Dengan itu dapatlah kita fahami bahawa bertahallul itu, terhasil bukan saja dengan bergunting/bercukur rambut. Begitu juga boleh bergunting rambut orang lain sebelum ia menggunting rambutnya.

Cuma afdalnya ia bergunting atau bercukur bagi dirinya terlebih dahulu sebelum ia mencukur/mengguntin g orang lain. Sah juga ia mencabut rambut di kepala tanpa berguting. Boleh gunting rambut di mana-mana bahagian rambut tidak semestinya di pangkal rambut.


6. Rukun keenam bagi haji (tertib pada kebanyakan rukun) rukun kelima bagi umrah (Tertib)


Haji - Tertib Pada Kebanyakan Rukun


Rukun haji dikerjakan dengan tertib pada kebanyakan rukun iaitu didahulukan niat ihram dan rukun-rukun yang lain didahulukan wukuf dari tawaf ifadah dan didahulukan tawaf dari saie. Saie haji boleh mendahului wukuf dengan syarat telah melakukan Tawaf Qudum, begitu juga bercukur/bergunting boleh mendahului tawaf jika telah masuk waktunya.

Umrah - Tertib

Melaksanakan rukun umrah satu persatu iaitu yang dahulu didahulukan.

Rasulluah Penyelamat Aqidah Ummah

Susasana masyarakat pada zaman Jahiliah begitu muram dan suram, kerana ia diselubungi pelbagai bentuk kedurjanaan akibat tindakan manusia yang cenderung kepada kejahatan.Orang berkuasa melakukan pelbagai penyelewengan, kezaliman, penindasan dan bermacam-macam lagi yang boleh disifatkan sebagai ketidak-perikemanus iaan.Perkara ini berlaku kerana manusia pada ketika itu telah hilang punca sebenar kebenaran. Golongan wanita dianggap alat tunggangan lelaki. Mereka tidak ada tempat dalam masyarakat, malah tiada nilai sedikit pun pada sisi orang lelaki.

Anak-anak perempuan ditanam hidup-hidup kerana mereka dianggap pembawa sial kepada ibu bapa.Penyembahan berhala serta patung-patung hasil ciptaan tangan manusia mendapat tempat di hati masyarakat pada masa itu. Pokoknya kehidupan mereka jauh daripada suasana damai, aman, tenang dan meyakinkan.

Justeru, bagi menyelamatkan mereka daripada terus bergelumang dan tenggelam dengan amalan-amalan yang songsang lagi syirik di sisi Allah SWT, maka Allah tidak terus membiarkan hamba-hamba- Nya sedemikian rupa.Maka diutusnya Rasul terakhir bagi menyelamatkan pegangan dan akidah mereka supaya hati mereka lurus hanya untuk Allah SWT.Allah menjelaskan menerusi ayat 9 surah as-Sof, maksudnya:

"Dia (Allah) telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa hidayah dan agama yang benar (Islam), agar ia dapat mengalahkan agama-agama yang ada seluruhnya, walaupun tindakan itu dibenci oleh orang-orang kafir."Jelas ayat di atas menunjukkan, bahawa Allah mengutus Nabi Muhammad s.a.w. adalah untuk membawa agama Islam ke bumi bagi menyelamatkan manusia seluruhnya daripada terus berada dalam kesyirikan kepada Allah.Kenapa Makkah jadi pilihan?Menurut ulama Sirah, Allah memilih Makkah kerana ia betul-betul berada di tengah bola dunia (globe). Ia memudahkan proses penyampaian agama Islam ke seluruh dunia, kerana dari Makkah mempunyai jalan mudah untuk sampai ke Eropah Timur melalui Syria, Turki dan seterusnya Bulgaria.Di sebelah barat pula melalui Mesir, Libya, Tunisia, Algeria dan Maghribi untuk ke Sepanyol dan negara-negara Afrika, sementara melalui Yaman pula adalah laluan untuk menuju ke negara-negara Asia melalui jalan laut.Demikianlah hikmah Allah SWT memilih Makkah, di kalangan bangsa Arab untuk tujuan penyebaran Islam, selain penentangan Bani Israil terhadap Nabi-nabi mereka.

Islam yang dibawa oleh baginda Rasulullah s.a.w. adalah untuk menyelamatkan manusia sesuai dengan sifat namanya Islam iaitu penyelamat.Ia adalah untuk menyelamatkan manusia sejagat daripada melakukan kezaliman, penindasan dan pelbagai tindakan kedurjanaan, agar mereka berlaku adil, sopan, bermaruah walaupun ia tidak disukai oleh golongan yang menentang Allah.Suasana seumpama ini akan terus berlangsung sampai ke hari kiamat selagi mana manusia masih tidak tunduk kepada Tuhan mereka yang benar iaitu Allah SWT

Waktu Gempa Bumi Sama Dengan Ayat dan Surah Dalam Al-Quran

Bismillah Allahummasolli' alamuhammad wa'alaalimuhammad Salamun 'alaikum


Gempa di Padang jam 17.16, gempa susulan 17.58, esoknya gempa di Jambi jam 8.52. Coba lihat Al-Qurâan! demikian bunyi pesan singkat yang beredar. Siapa pun yang membuka Al-Qurâan dengan tuntunan pesan singkat tersebut akan merasa kecil di hadapan Allah Swt. Demikian ayatayat Allah Swt tersebut:

17.16 (QS. Al Israaâ ayat 16): Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.

17.58 (QS. Al Israaâ ayat 58): Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) , melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuz).

8.52 (QS. Al Anfaal: 52): (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Firâaun dan pengikut-pengikutny a serta orang-orang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Amat Keras siksaan-Nya.

Tiga ayat Allah Swt di atas, yang ditunjukkan tepat dalam waktu kejadian tiga gempa kemarin di Sumatera, berbicara mengenai azab Allah berupa kehancuran dan kematian, dan kaitannya dengan hidup bermewah-mewah dan kedurhakaan, dan juga dengan keadaan Firâaun dan pengikut-pengikutny a. Ini tentu sangat menarik. sumber; eramuslim